Apa Karapan Sapi identik dengan penyiksaan

Cambuk Karapan Sapi

Cambuk Karapan Sapi

Berdasarkan tradisi masyarakat pemilik sapi karapan, maka hewan tersebut menjelang diterjunkan ke arena dilukai di bagian pantatnya yakni diparut dengan paku hingga kulitnya berdarah agar dapat berlari cepat. Bahkan luka itu diberikan sambal ataupun balsem yang dioles-oleskan di bagian tubuh tertentu antara lain di sekitar mata.

Jika awalnya karapan sapi hanya menggunakan cambuk agar sapi-sapi itu mau berlari kencang, saat ini peralatan itu mulai ditinggalkan dan diganti tongkat penuh paku. Bahkan sebelum dipacu, sekujur badan dan mata sapi tersebut diolesi balsam, dikucuri spirtus dan cuka untuk menimbulkan sakit dan kemarahan sapi hingga dia berlari bagai mengamuk.

Dengus nafas sapi dan darah segar yang mengucur dari luka bekas cakaran tongkat berpaku sang joki silih berganti, kibasan ekor yang bergerak ke kiri dan kanan serta airmatanya yang mengalir, menggambarkan betapa binatang itu menahan sakit, perih dan panas yang amat sangat. Kesemuanya terbalut dengan teriakan pemilik, pebotoh, dan penonton yang kegirangan menyaksikan laju binatang yang sudah dipasang dengan keleles itu.

Karapan Sapi dan penyiksaan sapi

Karapan Sapi dan penyiksaan sapi

Ada dua perlakuan yang bertolak belakang pada karapan sapi ini. Dibalik perlakuan istimewa menjelang karapan, si sapi harus berjuang keras ketika sudah digaris laga. Pantat dan ekor sapi yang digaruk paku oleh sang joki saat perlombaan, hingga mata dan dubur si sapi yang diolesi bedak panas, balsem dan sambal extra pedas. Karapan sapi lebih fantastis lagi dengan adanya permainan gaib sang dukun keberuntungan yang di adu pula disini.

Semua tindakan di atas bukanlah budaya asli dari Karapan. Ini adalah sebuah penyimpangan budaya yang memang sulit di ubah. Meski berkali-kali pemerintah sudah menegaskan agar tidak ada kekerasan fisik terhadap sapi kerap tapi hal ini terus berlangsung.

Informasi tentang karapan sapi lainnya….

%d bloggers like this: